Tampilkan postingan dengan label hasil karya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hasil karya. Tampilkan semua postingan

Media belajarku

Photobucket

Karya Ilmiah :

  1. Modul belajar Sempoa Mental Aritmatika Dasar Januari
  2. Modul belajar sains kelas IV SD di SDMCC tahun 2004
  3. Modul belajar sains kelas V SD di SDMCC tahun 2005
  4. Karya Tulis Model Pembinaan Olimpiade Sains tingkat SD tahun 2007
  5. LKS IPA-Fisika MGMP kabupaten Pati 2010
  6. Buku Siap UN IPA Yudistira 2010
  7. Media Pembelajaran Interaktif (MPI) tahun 2009
  8. Media Pembelajaran Interaktif (MPI) tahun 2010
  9. Media Pembelajaran Interaktif (MPI) tahun 2011
  10. Media Pembelajaran Interaktif (MPI) tahun 2011


Menulis di media Kedaulatan Rakyat, republika dan suara merdeka :

  1. " Opini : 800 poinit menuju sertifikasi"
  2. "Opini : Pendidikan berwawasan lingkungan"
  3. "Opini : Pola pembinaan olimpiade di sekolah"
  4. "Opini : Psikologi anak menjelang UASBN"
  5. "Ayo Guru Menulis"
  6. " cerpen : Masuk pertama sekolah"
  7. " Cerpen : Berbagi daging qurban"
  8. dll

Ikut lomba Multimedia Pembelajaran Interaktif di LPMP



Media ini saya ikutkan lomba di LPMP baru pertama kali ikut lomba multimedia jadi hasilnya masih belum memuaskan peringkat 33 dari 70 an peserta. tapi saya pikir sdh bagus. karena merupakan pemula. tapi yang paling mengesankan adalah proses pembuatannya yang melibatkan anak untuk melakukan presentasi itu yang merupakan proses yang tidak terlupakan.


Dengan ikut lomba multi media ini aku sangat bersemnagat sampai sekarang untuk mengkuti lomba karena ketemu sama teman-teman yang luar biasa.

Senangnya jika tulisan di muat di media massa.

Menulis adalah sesuatu yang sangat menyenangkan apalagi jika tulisan kita bisa di baca banyak orang, banyak cara yang bisa kita lakukan bisa lewat blog, namun menurut pengalaman saya lebih meras puas hati jika tulisan kita bisa di muat di koran harian walaupun hanya dalam waktu sebentar, karena memang ada sesautu yang lain. silahkan mencoba jik anda tak percaya, saya yakin anda akan ketagiahan untuk menulis.
Ini lah salah foto satu dari yang lain muatan karya tulis saya yang di muat di media massa suara merdeka.

Pola Pembinaan Olimpiade di Sekolah


Karya tulis Tentang pembinaan olimpiade ini adalah Pemenang lomba Penulisan Karya Tulis Ilmiah yang di adakan oleh ISPI pusat, yang intinya adalah Bagaimna proses pembinaan olimpiade di sekolah sehingga bisa menghasilkan anak-anak yang juara olimpiade, Namun Mohon maaf ini adalah pengalaman sa ya saaat masih mengajar di SD dulu oh ya Kar ya tulis ini sudah di dipublikasikan di ISPI Pusat




Pendidikan Berwawasan Lingkungan

Oleh: Slamet Widiantoro, S.Pd
Tulisan ini pernah di muat di Republika



dekatkan kursor di foto untuk memperbesar foto
Musibah bertubi-tubi melanda negeri ini mulai dari gempa bumi, tsunami, gunung meletus, puting beliung, tanah longsor. Dan, terakhir-terakhir ini di musim penghujan ada daerah-daerah yang menjadi langganan bencana banjir, atau bencana yang lebih besar lagi bagi dunia yaitu adanya pemanasan global yang luar biasa dampaknya bagi bumi kita.

Bencana-bencana di atas tentunya secara langsung atau tidak langsung akan membawa dampak terhadap dunia pendidikan kita. Karena, dengan adanya bencana yang melanda tersebut maka banyak yang menjadi korban pendidikan, mulai dari fasilitas pendidikan dengan rusaknya bangunan sekolah, rusaknya transportasi menuju sekolah, atau terendamnya sarana sekolah lain karena banjir.



Belum lagi dampak psikologis yang dialami oleh anak akibat bencana tersebut. Tentunya kita masih teringat di tayangan televisi bencana tsunami di Aceh atau gempa bumi 27 Mei yang melanda di Yogyakarta bagaimana anak-anak menangis karena kehilangan saudara-saudaranya.

Bencana-bencana ini tentunya tidak lepas hanya sekadar dari peristiwa alam biasa. Tentunya, ada faktor kesalahan manusia baik itu secara fisik atau ada hubungannya dengan perusakan alam atau secara nonfisik akibat dari banyaknya kesalahan-kesalahan yang diakibatkan dari tingkah laku manusia. Sehingga, sang pencipta memberikan peringatan atau hukuman-Nya.

Dengan melihat latar belakang di atas tentunya kita melihat sangat perlunya pendidikan yang berwawasan lingkungan sejak dini. INi untuk mempersiapkan anak-anak kita yang siap mencegah dan menghadapi bencana lingkungan.

Pendidikan berwawasan lingkungan ini tentunya secara tidak langsung sudah terdapat di dalam kurikulum atau materi di sekolah dasar salah satunya dalam bidang studi IPA. Namun, dalam pelaksanaannya masih dirasa kurang karena permasalahan bencana tidak semata-mata hanya karena proses alam saja. Juga, diakibatkan dari pengaruh akhlak dari anak-anak bangsa, sehingga memang sangat diperlukan keterpaduan dalam pendidikan lingkungan ini. Sehingga, pendidikan lingkungan bisa diintergrasikan masuk juga dalam pelajaran yang lain misalnya IPS, agama, bahasa Indonesia, bahsa Jawa, bahkan matematika

Sehingga, dari sini penting diperlukan adanya pembelajaran tematik tentang tema lingkungan di kelas. Walaupun sekarang sudah dikenalkan metode pembelajaran ini namun kita mengamati masih banyak dilakukan pada kelas-kelas kecil. Karena, di kelas atas ada guru bidang studi, hal ini kadang sebagian guru kita terjebak dalam dikotomi pendidikan. Sehingga, ketika kita berbicara IPA maka ada maka kita hanya berbicara IPA kita tidak membicarakan masalah agama, sosial, atau bahasa.


Pembelajaran tematik yang berhubungan dengan lingkungan ini agar lebih menarik bisa diwujudkan dengan field trip misalnya. Field trip ini bisa dalam bentuk pengenalan lingkungan sekitar misalnya saja pergi ke sawah. Di sawah anak bisa mempelajari semua pelajaran yang ada. Misalnya, untuk mempelajari IPA bisa dikenalkan dengan cara perkembangbiakan tanaman, pelajaran matematika belajar simetri lipat pada daun, pelajaran bahasa Jawa berlatih berbicara bahasa jawa dengan pak tani, pelajaran bahasa indonesia dengan menulis puisi, pelajaran KTK dengan menggambar pemandangan, pelajaran olah raga misalnya adanya game-game dengan lumpur di sawah.

Dengan adanya pembelajaran ini mungkin lebih membawa makna tersendiri bagi anak karena anak praktik langsung, selain mengurangi rutinitas pembelajaran di kelas. Walaupun tentunya membawa konsekuensi bagi guru karena harus bekerja ekstra dengan pengawasan anak di luar kelas.

Model pembelajaran lingkungan ini tidak hanya dengan model seperti di atas. Ada sekolah dengan media terbatas dapat melakukan dengan pemutaran film atau CD tentang lingkungan, membuat kliping bencana alam, mendaur ulang limbah rumah tangga, membuat taman, mempraktikkan simulasi gempa, yang hal ini sering dilakukan oleh negara maju seperti Jepang yang sering terjadi bencana gempa.

Untuk mengenalkan anak terhadap teknologi lingkungan anak-anak membuat model alat yang berhubungan dengan penangan bencana misalnya alam banjir atau alam gempa. Bisa juga dengan berkunjung ke suatu tempat pengolahan limbah industri, atau pendaurulangan sampah rumah tangga

Bekerja sama dengan LSM yang berkecimpung dengan lingkungan atau stake holder yang peduli terhadap lingkungan untuk datang ke sekolah memberikan pelatihan juga menjadi alternatif bagi sekolah yang tidak memiliki dana atau kemampuan yang cukup untuk memberikan hal-hal seperti di atas. Sehingga, dengan cara ini tidak menjadi sesuatu yang memberatkan bagi sekolah.

Pembelajaran seperti di atas sudah diterapkan oleh beberapa sekolah yang memang di sekolahnya memiliki kurikulum pendidikan berwawasan lingkungan atau adanya guru-guru yang peduli terhadap lingkungan. Namun, dirasa akan lebih membawa dampak yang besar jika diwujudkan oleh seluruh sekolah negeri ini.

Dari uraian di atas kita melihat begitu pentingnya pendidikan lingkungan sejak dini agar anak memiliki wawasan lingkungan yang lebih luas dan diharapkan dapat peduli terhadap lingkungan di daerahnya dan tentunya siap menghadapi bencana akibat lingkungan. Dari pembahasan di atas pula kita berpikir tidak diperlukannya pendidikan lingkungan sebagai suatu pelajaran yang berdiri tersendiri. Karena, bisa terintegrasi dengan bidang studi yang lain dalam bentuk model pembelajaran tematik.

Ayo Guru belajar menulis!

Tulisan ini dimuat di Agupena jateng

Oleh : Slamet Widiantoro, S.Pd
Dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor No. 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya secara otomatis akan berdampak terhadap posisi guru dalam jabatannya.

Dalam Peraturan tersebut diungkapkan, bahwa guru harus mengembangkan profesinya dan mengadakan publikasi ilmiah. Salah satu point publikasi ilmiah dalam pasal 17 peraturan tersebut dikatakan bahwa guru harus membuat karya tulis. Ke depan juga pengembangan profesi melalui karya tulis ini, ternyata sudah menjadi syarat untuk kenaikan pangkat mulai dari golongan III.b menuju ke III.c. Sehingga sekarang tidak lagi hanya dari golongan IV.a menjadi IV.b saja yang harus membuat karya tulis.


ari hal di atas jelaslah bahwa guru harus memiliki semangat menulis jika tidak mau ingin mengalami stagnasi jenjang kepangkatannya. Namun semangat menulis saja tidak cukup tanpa di imbangi dengan kemauan kuat, dan kemampuan yang untuk mulai belajar menulis sejak saat ini. Walaupun sebenarnya guru sudah mendapatkan pengalaman menulis karya tulis ketika mendapatkan gelar sarjana, namun karena cepatnya perkembangan jaman ternyata pengalaman itu dirasa masih belum mencukupi apalagi ketika dulu menulis karya tulisnya masih banyak oleh orang lain.

Awal dari belajar menulis yang pertama adalah dengan membaca. Mengapa membaca? Karena membaca merupakan syarat utama yang dimiilki seorang yang ingin belajar menjadi penulis, hal ini yang sering kita dengarkan ketika kita mengikuti pelatihan menulis. Hal ini memang sangat benar adanya, karena dengan membaca kita akan mendapatkan banyak perbendaharaan kata dalam menulis, selain itu ide atau gagasan yang kita tuangkan dalam bentuk tulisan kita dapatkan juga dari aktivitas membaca ini. Namun sayang kita mengamati dan membaca di media masih rendah minat kita sebagai guru untuk mau membaca, sehingga wajar jika guru masih sedikit yang bisa menulis. Selain membaca mengikuti seminar bagaimana cara membuat karya tulis yang baik, mengikuti workshop atau lokakarya penulisan, ataupun diklat dan pelatihan menulis, juga dapat menjadi bekal tambahan untuk membuat karya tulis yang berkualitas.

Bekal tambahan yang diperoleh ketika mengkituti hal di atas, tanpa mempraktekkan langsung sama juga tidak ada artinya. Maka dari itu guru harus sering berlatih untuk membuat karya tulis yang baik. Banyak media yang dapat digunakan guru untuk berlatih, mulai dengan membuat media pembelajaran seperti LKS, diktat di sekolah, menulis artikel yang diterbitkan di buletin sekolah atau media massa, ataupun membuat PTK, yang sekarang menjadi hal yang sering dilakukan guru untuk mempercepat kenaikan pangkatnya karena memiliki point yang besar. Walau kadang guru sering mengeluh karena PTK yang sudah dibuat ini sering tidak memenuhi standar yang ada sehingga tidak diperhitungkan dalam penilaian angka kredit

Ketika kita belum mampu membuat karya tulis yang bisa dipublikasikan melalui media masa, ternyata ada jalan lain yang dapat di tempuh, yaitu melalui dunia maya atau internet. Di internet ini banyak website yang dapat menampung tulisan kita, asalkan tulisan kita berkualitas. Dan jika kita masih belum bisa menembus website tersebut ternyata ada banyak jalan menuju roma. Jalan tersebut adalah dengan membuat blog sendiri, kita bisa menuangkan ide atau gagasan karya tulis kita dengan membuat blog kita. Dengan blog ini juga, tulisan kita dapat di baca oleh orang lain yang berkunjung ke blog.Selain itu kita juga bisa berlatih menulis dengan media ini. Yang insyaAllah lama-kelamaan kita akan bisa membuat karya tulis dengan baik.

Bergabung dengan organisasi penulis merupakan hal yang sangat perlu bagi penulis pemula, mengapa deminkian? Hal ini dikarenkan dalam organisasi penulis tentu banyak orang yang memilki kapabilitas yang tinggi dalam hal menulis, sehingga kita bisa sharing knowledge, mengenai banyak hal tentang menulis. Banyak organisasi yang menyediakan wadah ini dan kita bisa mencari orangisasi penulis ini bisa melalui internet. Organisasi ini biasanya mempunyai website sehingga kita juga bisa ikut berpartisipasi dengan memposting apa yang kita tulis dalam website organisasi tersebut, dengan demikian kita akan memilki arena untuk menulis. Ada sebuah pepatah yang sesuai dengan hal ini “dekatkalah dengan seorang penjual minyak wangi, maka anda akan terkena imbas dari bau minyak wanginya tersebut”.

Mengikuti lomba yang diadakan di berbagai organisasi atau instansi, juga dapat mengasah kemampuan kita untuk belajar menulis. Dengan mengikuti lomba ini kita bisa melihat bagaimana tulisan yang berkualitas, mencari pengalaman dari teman yang sering menulis, mendapatkan suntikan semangat untuk menulis. Selain itu kita juga mengetahui bagaimana trik-trik menulis yang baik.

Dengan ada guru yang memiliki kemampuan menulis, maka kita bisa melihat mereka memiliki jenjang kepangkatan yang lebih cepat dibanding dengan yang tidak memilki kemampuan ini, dan tentunya dengan mereka memilki kemampuan yang satu ini, jenjang kepangkatan mereka tidak hanya mentok sampai dengan IV A.

Namun tujuan kepangkatan di atas, jangan kita jadikan sebagai tujuan utama dalam belajar menulis. Ketika kita menulis hanya ingin mendapatkan tujuan singkat itu, maka sering kita terhenti untuk belajar. Dan hal ini sesaui dengan defifinisi belajar bahwa belajar adalah suatu proses yang berkelanjutan dan akhir dari tujuan belajar adalah adanya perubahan perilaku. Maka marilah kita mulai belajar menulis dari hati, mulai saat ini dan dengan memiliki niat untuk memperbaiki diri.

Slamet Widiantoro, S.Pd

 
Support : Beranda |
| Copyright © 2009. GURU IPA PATI - All Rights Reserved
Template Modify Mr.Widi | mastemplate
Proudly powered by Blogger Team