
Hari Pendidikan Nasional 2012 Masih Ada PR

Ada masalahkah jika Buku LKS di hapus?

Kembali lagi ke permasalahan sekarang Ada masalahkah jika Buku lKS di Cabut, mungkin bermasalah bagi ereka yang selalu bergantung dengan LKS dan menggunakaannya sebagai patokan untuk mengajar, namun tidak juga menjadi masalah bagi mereka yang mampu mensikapi dengan bijak dan kreatif, dengan kata lain banyak jalan menuju roma begitu juga dengan hasil belajar yang memang membutuhkan sebuah proses yang panjang tidak instan, dan semuanya tadi tergantung siapa dan bagaimna mensikapinya. Dan kembali kepada pribadi guru masing-masing dalam menggunakan buku LKS jika kemanfaatannya lebih sedikit dibanding dengan kerugiaanya ya setujulah di hapus. namun jika sebaliknya ya sebaiknya dipertahankan.
Gara-gara Uji Kompetensi

Hamil duluan,Tak jadi Ujian, Akhirnya ke Pelaminan
Ketika saya membaca salah satu status teman berhubungan dengan hal di atas cukup menggelitik karena "sudah saya diingatkan jangan mendekati zina, jika kalian tidak mau menanggung akibatnya". Namun masih saja murid yang diberi nasehat tetap saja mengumbar napsunya. dan kibatnya "jebol dinding pertahanannya".
Apalagi ditambah ini berhubungan dengan "hamil duluan takut konangan ya akhirnya diaborsi duluan"... Aduh aduh... apakah tidak mengerikan.
Salah satu akibat dari hamil duluan tentunya tak lepas dari kedekatan anak tersebut dengan istilah "free sex" dan awal dari "free sex" adalah karena bebasnya pergaulan melalu istilah "pacaran" . Di dukung dengan teknologi yang semakin mudahnya mengakses informasi free sex melaliui internet.
Coba saja lihat berita ini.. hamil 4 bulan pelajar tertangkap mesum di hotel
Dengan melihat ini kita sebagai guru tentunya tak boleh tinggal diam bukan? dan tentunya kita dan orang tua kita tidak bisa mengawasi anak seharian. Terus apa yang bisa kita lakukan. Jawaban normatif adalah dengan menanamkan pendidikan Agama dan Moral yang baik pada anak sejak dini, dan mulai dari saat ini .
Nah jika ada pertanyaan lagi bentuknya seperti apa menanamkan pendidikan moral dan agama kepada anak tadi?
Pertanyaan juga bagaimana peran BK di sekolah? Namun hal ini tidak akan saya bahas karena bukan kapabilitas saya.. mungkin nanti ada guru BK yang mau memberikan komentarnya
Tentunya kita sebagai guru harus membuka reverensi buku agama untuk menjawabnya. Setelah kita buka buku-buku Agama tentunya sudah banyak jawaban dan penjelasannya di sana. Jadi tinggal bagaimana penerapannya bagi diri kita dan anak didik kita.
Dan ketika kita berpikir dan kita instropeksi diri khususnya saya, memang pendidikan kita masih jauh dari harapan dengan mengutamakan kepada konten materi dari pada aplikasi.
Dan mungkin pendidikan terpadu antara pendidikan yang dianggap keilmuan dengan pendidikan agama salah satu jawabannya. sehingga untuk harus berkampanye.., entah kampanye sukses atau tidak yang penting tugas kita adalah menyampaikan. Atau memang jika sudah kebelet ya dipersilahkan nikah saja anaknya, dari pada masuk ke zina..ya to..!
Jembatan Menggantung Namun Pendidikan Tak Boleh Menggantung

Beberapaha hari ini melihat foto atau tayangan di TV nasib jembatan Menggantung di Lebak. Sungguh jika melihatnya akan sangat prihatin dengan keberadaanya.
Dan saya kita bisa membayangkan bagaimna kondisi anak-anak di sana yang mau berangkat sekolah dengan menggantung di atas atas jembatan yang menggantung.. uh sunggguh ngeri dapat menguji nyali.
Jika belum sempat melihat video beritanya bisa dilihat di sini berita dari, Metro TV News.com
Melihat foto ini Jadi teringat kegiatan Pramuka atau kegiatan disekolah kita saat liburan, hal dilakukan dilakukan saat outbount untuk melatih mental Anak didik kita. Tapi apa jadinya jika ini dilakukan berulang-ulang dalam tiap harinya. Wow... apakah Mental mereka akan menjadi pemberani atau sebaliknya silahkan Anda membayangkan sendiri.
Namun dari keprihatinan kita tersebut dengan melihat kondisinya tentunya kita akan melihat bagaimana keinginan mereka untuk pergi ke sekolah, bertemu dengan teman-teman, bertemu dengan guru, menikmati pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, IPS dan olahraga, bercanda dengan teman-temannya di sekolah, dan pulang dengan hati yang riang. yang patut kita acungkan Jempol 10....
Melihat ini tentunya, kita akan bertanya "Salah Siapa?" .Namun hal ini tak akan saya bahas di sini. Namun dari kejadian ini dapat menjadi hikmah dan bahan pelajaran bagi anak didik kita. Kita bisa menayangkan video ini selanjutnya digunakan menjadi bahan diskusi kita di kelas. mereka disuruh untuk memberikan persepsinya dan pandanganya jika mereka di sana, Bagaimna jika mereka menjadi pemimpin melihat situasi saat seperti itu. dan Apa yang dilakukan untuk mengantisipasi hal demikian.
Dan tentunya ketika Anda menyampaikannya di kelas jangan Kaget jika mungkin ada anak yang menurut Anda aneh, karena kecuekannya dengan kondisi teman-temannya, atau bahkan tidak peduli dengan berita ini karena sudah menjadi hal yang biasa, tentunya memang menjadi tugas kita bersama untuk memberikan mereka sebuah pengalaman
Dengan pembelajaran ini tentunya akan membawa efek pembelajaran yang membekas bagi mereka. dan tentunya
Kiyat Esemka inspirasi Bagi Guru Untuk Berkarya

Ayo Milih Mana Raport Tulis Tangan atau Raport Print-printnan?
Saya dulu memiliki murid pindahan dari Australia tepatnya tahun 2004 atau 2005 dia tidak memiliki raport seperti di Indonesia yang harus menulis tangan. Rapornya diganti dengan beberapa kumpulan print-printna portofolio dari anak hasil belajar anak tersebut, tapi mohon maaf saya sudah lupa isinya apa saja.
Jika kita bandingkan dengan raport di Indoenisia pada umumnya kita memang beda sih kita harus menulis raport itu dengan tangan yang lumayan capek, dan repotnya jika salah kita harus menggantinya. lebih report laghi jika baliknya sudah ada tanda tangan kepala sekolahnya kita harus mengganti juga raport tahun lalu dan minta bantuan wali kelas yang dulu agar tulisannya sama. Apalagi jika kepala sudah pindah tambah pusing lagi tuh.
Namun begitu kata orang memang ada seninya dan kata temanku ada seninya ada juga yang menagtakan ada sejarahnya dengan menulis dengan tangan. Ada benarnya juga sih, selai itu raport juga sudah terfile dengan khusus sehingga tidak akan tercecer. Atau jika dinilai keaslianya juga lebih berbeda bila dibanding dengan print-printnan.
Di atas ada Gambar raport yang saya kopi dari situs (http://autisfamily.blogspot.com). Menurut saya gurunya luar biasa biosa dibayangkan jika jumlah anak lebih dari 40 wah bisa pegel-pegel ya...tapi yo tidak apa-apa memberi rizki tukang pijit, atau malah pahala lebih banyak karena kerja kerasnya lebih dibanding dengan raport yang hanya ditulis dengan angka2 saja.
Berbicara masalah ini kemarin saya Facebookan dengan dengan guru yang banyak memilki pengalaman dengan hal ini, dan memiliki produk aplikasi pendidikan yang bagus-bagus yaitu Bapak Muhamad Khotib,di sekolahnya dan beberapa sekolah negeri di daerahnya sudah menggunakan raport print-prinan mungkin lebih mudah dan cepat kali. Saya juga berpikir juga begitu kita bisa membuatnya dengan program ofice atau program lain dan lebih cepat dibandingkan dengan menulis tangan, di sekolahku juga sudah tapi hanya untuk laporan nilai yang sementara.
Dengan raport model seperti ini jika ada kesalahan juga mudah menggantinya tidak report banget tinggal print selesai. Walau ada kelemahan jika menggeprintnya tidak menggunakan tinta yang bagus bisa lunturkan jika kena air. Tapi kata pak Muhammad khotib sudah di lapisi dengan pembungkus kedap air jadi ya tetap aman saja.
Wah ini sebenarnya gagasan bagus bagi sekolah yang belum menerapkannya. Walau begitu masih menjadi kontra antara guru yang menghendaki raport jenis lembaran/portofolio yang print-prinan dan raport manual tulis dengan tangan dengan argument masing-masing.
Atau ada juga model sekolah saya jaman dulu yang menggabungkan keduanya ada portofolio bagi anak dan juga ada raport bertuliskan tangan. Capek deh... kata sebagian gurunya. Tapi kata orang jangan dinilai capeknya tapi bagaimana memberikan yang terbaik bagi anak didiknya apalagi jika dinilai dari ibadahnya(teori ya..?). masih ingat prajab katanya (pelayanan prima).
pemilihan menggunakan raport mana, semuanya tentunya tidak lepas dari penentu kebijakan di sekolah masing-masing karena jika tidak ada kebijakan kita sebagai guru biasa tidak bisaa to melangkah. Nah disinilah butuh musyawarah.
Nah sekarang tinggal pilih mana sekolah kita pilih raport dengan tulisan tangan atau model print-printnan. Terserah sama pimpinan Anda. Oh ya Ada yang bertanya temanku tolong di jawab oleh teman yang baca. Bagaimna Efektifitas raport di sekolah untuk menjadi laporan hasil belajar Anak didik??
Semoga bermanfaat tulisan ini. Oh ya yang sependapat dengan raport print-printan berarti seide, yang belum juga ya mungkin bisa beri alasan di sini. maaf juga jika ada salah ketik dan bahasa. terimaksh jika mau berkomentar atau menambah gagasan lain di sini.
Guru terjangkit virus "SKS" tidak deh?

Namun yang menjadi catatan tim pengendali mutu tadi tentunya tidak boleh mengintervensi guru dalam memberikan nilai karena itu wewenang atau hak guru dalam menilai anak didiknya. Tapi boleh juga memberikan masukkan jika nilai yang diberikan kurang seimbang dengan guru lain yang mengajar pada pararel yang sama. Catatan yang lain adalah guru bidang studi masing-masing harus memililki file nilai yang sudah diserahkan.
Boleh juga guru bidang studi memiliki file sendiri Dafnilportnya, selanjutnya baru diserahkan ke tim pengendali mutu agar guru juga tidak "manja" selain lebih mengenal teknologi atau lebih profesional katanya???
Gambar di atas merupakan contoh gambar yang dijadikan di sekolah saya untuk mengentri nilai di buat dengan aplikasi exel oleh senior saya mas Tejo namanya. Dan tentunya di sekolah Bapak/ibu Guru ada yang ahli exel bukan, ? jadi mulailah sekarang membuatnya tunggu apa lagi. Apalagi sudah dapat sertifikasi? apa hubunganya..ya..? ada yang tahu??
Semoga bermanfaat tulisan ini dan silahkan mencoba jika hal ini berguna. Terimakasih jika berkenan memberikan komentaranya
Pola Pembinaan Olimpiade di Sekolah
Karya tulis Tentang pembinaan olimpiade ini adalah Pemenang lomba Penulisan Karya Tulis Ilmiah yang di adakan oleh ISPI pusat, yang intinya adalah Bagaimna proses pembinaan olimpiade di sekolah sehingga bisa menghasilkan anak-anak yang juara olimpiade, Namun Mohon maaf ini adalah pengalaman sa ya saaat masih mengajar di SD dulu oh ya Kar ya tulis ini sudah di dipublikasikan di ISPI Pusat
Pendidikan Berwawasan Lingkungan
Tulisan ini pernah di muat di Republika

Bencana-bencana di atas tentunya secara langsung atau tidak langsung akan membawa dampak terhadap dunia pendidikan kita. Karena, dengan adanya bencana yang melanda tersebut maka banyak yang menjadi korban pendidikan, mulai dari fasilitas pendidikan dengan rusaknya bangunan sekolah, rusaknya transportasi menuju sekolah, atau terendamnya sarana sekolah lain karena banjir.
Belum lagi dampak psikologis yang dialami oleh anak akibat bencana tersebut. Tentunya kita masih teringat di tayangan televisi bencana tsunami di Aceh atau gempa bumi 27 Mei yang melanda di Yogyakarta bagaimana anak-anak menangis karena kehilangan saudara-saudaranya.
Bencana-bencana ini tentunya tidak lepas hanya sekadar dari peristiwa alam biasa. Tentunya, ada faktor kesalahan manusia baik itu secara fisik atau ada hubungannya dengan perusakan alam atau secara nonfisik akibat dari banyaknya kesalahan-kesalahan yang diakibatkan dari tingkah laku manusia. Sehingga, sang pencipta memberikan peringatan atau hukuman-Nya.
Dengan melihat latar belakang di atas tentunya kita melihat sangat perlunya pendidikan yang berwawasan lingkungan sejak dini. INi untuk mempersiapkan anak-anak kita yang siap mencegah dan menghadapi bencana lingkungan.
Pendidikan berwawasan lingkungan ini tentunya secara tidak langsung sudah terdapat di dalam kurikulum atau materi di sekolah dasar salah satunya dalam bidang studi IPA. Namun, dalam pelaksanaannya masih dirasa kurang karena permasalahan bencana tidak semata-mata hanya karena proses alam saja. Juga, diakibatkan dari pengaruh akhlak dari anak-anak bangsa, sehingga memang sangat diperlukan keterpaduan dalam pendidikan lingkungan ini. Sehingga, pendidikan lingkungan bisa diintergrasikan masuk juga dalam pelajaran yang lain misalnya IPS, agama, bahasa Indonesia, bahsa Jawa, bahkan matematika
Sehingga, dari sini penting diperlukan adanya pembelajaran tematik tentang tema lingkungan di kelas. Walaupun sekarang sudah dikenalkan metode pembelajaran ini namun kita mengamati masih banyak dilakukan pada kelas-kelas kecil. Karena, di kelas atas ada guru bidang studi, hal ini kadang sebagian guru kita terjebak dalam dikotomi pendidikan. Sehingga, ketika kita berbicara IPA maka ada maka kita hanya berbicara IPA kita tidak membicarakan masalah agama, sosial, atau bahasa.
Pembelajaran tematik yang berhubungan dengan lingkungan ini agar lebih menarik bisa diwujudkan dengan field trip misalnya. Field trip ini bisa dalam bentuk pengenalan lingkungan sekitar misalnya saja pergi ke sawah. Di sawah anak bisa mempelajari semua pelajaran yang ada. Misalnya, untuk mempelajari IPA bisa dikenalkan dengan cara perkembangbiakan tanaman, pelajaran matematika belajar simetri lipat pada daun, pelajaran bahasa Jawa berlatih berbicara bahasa jawa dengan pak tani, pelajaran bahasa indonesia dengan menulis puisi, pelajaran KTK dengan menggambar pemandangan, pelajaran olah raga misalnya adanya game-game dengan lumpur di sawah.
Dengan adanya pembelajaran ini mungkin lebih membawa makna tersendiri bagi anak karena anak praktik langsung, selain mengurangi rutinitas pembelajaran di kelas. Walaupun tentunya membawa konsekuensi bagi guru karena harus bekerja ekstra dengan pengawasan anak di luar kelas.
Model pembelajaran lingkungan ini tidak hanya dengan model seperti di atas. Ada sekolah dengan media terbatas dapat melakukan dengan pemutaran film atau CD tentang lingkungan, membuat kliping bencana alam, mendaur ulang limbah rumah tangga, membuat taman, mempraktikkan simulasi gempa, yang hal ini sering dilakukan oleh negara maju seperti Jepang yang sering terjadi bencana gempa.
Untuk mengenalkan anak terhadap teknologi lingkungan anak-anak membuat model alat yang berhubungan dengan penangan bencana misalnya alam banjir atau alam gempa. Bisa juga dengan berkunjung ke suatu tempat pengolahan limbah industri, atau pendaurulangan sampah rumah tangga
Bekerja sama dengan LSM yang berkecimpung dengan lingkungan atau stake holder yang peduli terhadap lingkungan untuk datang ke sekolah memberikan pelatihan juga menjadi alternatif bagi sekolah yang tidak memiliki dana atau kemampuan yang cukup untuk memberikan hal-hal seperti di atas. Sehingga, dengan cara ini tidak menjadi sesuatu yang memberatkan bagi sekolah.
Pembelajaran seperti di atas sudah diterapkan oleh beberapa sekolah yang memang di sekolahnya memiliki kurikulum pendidikan berwawasan lingkungan atau adanya guru-guru yang peduli terhadap lingkungan. Namun, dirasa akan lebih membawa dampak yang besar jika diwujudkan oleh seluruh sekolah negeri ini.
Dari uraian di atas kita melihat begitu pentingnya pendidikan lingkungan sejak dini agar anak memiliki wawasan lingkungan yang lebih luas dan diharapkan dapat peduli terhadap lingkungan di daerahnya dan tentunya siap menghadapi bencana akibat lingkungan. Dari pembahasan di atas pula kita berpikir tidak diperlukannya pendidikan lingkungan sebagai suatu pelajaran yang berdiri tersendiri. Karena, bisa terintegrasi dengan bidang studi yang lain dalam bentuk model pembelajaran tematik.
TULIP (Tugas Liburan Sekolah)

He.. ini kadang kita temui disekolah. Bahkan ada sekolah yang memang secara khusus mengagendakan untuk mengadakan tugas liburan sekolah (TULIP) dengan beban yang berjubel yang berisi materi atau mengerjakan soal yang begitu banyaknya atau proyek-proyek yang dikerjakan di rumah dengan semua materi pelajaran yang ada.
Maksudnya baik sih... untuk memberikan situasi agar anak tidak terlalu banyak main dan tetap dalam kondisi belajar di rumah, ketika dia masuk sekolah tidak begitu kaget dengan pelajaran yang ada. Maksud ini dari pihak guru atau sekolah...!?! Namun apakah kita pernah bertanya kepada anak bagaimana beban anak ketika dia sedang ingin menikmati liburnya. Tentunya jawabnya mengeluh, borring dan lain sebagainya walau ada juga anak yang berhati malaikat dengan senang hati akan mengerjakan TULIP dengan baik.
Jika situasinya sudah seperti ini maka orang tua yang di rumah menjadi agak repot, karena orang tua yang akan memaksa anak untuk mengerjakan tugas liburan, ketika ada orang tua yang tidak sabar, maka orang tua yang tidak bertanggung jawab akan mengerjakan tugas liburan itu sendiri, dengan alasan dari pada bosan menyuruh anak untuk mengerjakan ya saya kerjakan sendiri saja...!?!
Dalam masalah ini tentunya komunikasi antara orang tua, anak dan guru bahkan sekolah harus berjalan dengan baik sehingga TULIP yang tujuan utamanya adalah baik akan berkesan tidak baik,karena tanpa memandang segi psikologis anak. Walaupun memang diras perlu TULIP karena membiarkan anak berkeliaran tanpa tujuan di rumah juga tidak mendidik.
Jadi lebih baiknya memang tugas liburan yang di buat oleh guru tidak terlalu membebani siswa atau dengan kata lain tidak terlalu menggangu liburan siswa. Karena sebenarnya dengan liburan ini sangat banyak manfaatnya bagi siswa misalnya akan mengurangi ke jenuhan belajar di sekolah, dan diharapkan setelah masuk akan ada wajah baru yang ceria menghadapi pelajaran, dengan tanpa beban pelajaran yang menumpuk atau tugas liburan yang belum di kerjakan.
TULIP yang menggembirakan perlu di coba misalnya memberikan tugas menanam tumbuhan untuk pelajaran IPA, membuat cerita liburan untuk pelajaran bahasa indonesia, mpergi ke masjid atau mengaji di Masjid untuk pelajaran agama, sehingga tugas liburan terasa seperti bermain tidak hanya mengerjakan soal-soal yang sudah dikerjakan di sekolah.
Mari kita bersama belajar (khususnya saya) memandang tugas belajar juga dari segi anak tidak hanya dari segi guru saja. Kasihan anak ketika terlalu banyak beban belajar, dengan hasil yang tidak jauh berbeda dengan di beri tugas TULIP tadi.
Mungkin kata orang ini hanya teori, tapi memang teori yang layak kita kaji.
Out bount Guru
Nah dengan outbount guru ini perlu juga dilakukan oleh sekolah, selain dapat mengelola keompokkan , kerjasama di sekolah dapat juga di gunakan dalam menjalin silaturahmi. karena dengan outbount ini biasanya situasinya dalam keadaan yang menyenangkan sehingga perasaan yang kurang enak di antara guru akan mencair bersamaan dengan permainan yang di lakukan.
walau hal ini tidak mudah karena biasannya membutuhkan seoarang mentor atau peralatan yang memadai, namun sekarang sudah banyak EO yang banyak memberikan paket-paket outbount yang murah atau alat bisa digunakan dari yang sedederhana dan tidak yang mahal. atau bisa juga dikelola sendiri sehingga biaya akan lebih terjangkau, namun tetap berkualitas.
hal ini sering dilakukan disekolahku pada akhir tahun untuk mengembalikan daya guru agar lebih refres dan dapat bekerja lagi dalam keadaan yang lebih baik. dan biasannya diahkiri dengan program ESQ yang menyentuh kalbu dan di harapkan dapat membawa guru dalam menjalan kan tugas dalam rangka ibadah.
Yuk...Ngeblog

Banyak cara yang dilakukan guru untuk menuangkan ide, gagasan dalam bentuk tulisan, salah satunya adalah blog. Dengan blog banyak seklai manfaatnya bagi kita seorang guru antara lain :
1. menjadikan kita gemar menulis dengan menuangkan ide yang kita miliki. Ide dan gagasan yang kita minliki ini kadang tidak dapat tersampaikan dengan lesan, maka kita dapat samapaikan dengan tulisan yang kita punyai. walau kadang tulisan kita masih amburadul tidak apalah. Namun pesan yang kita sampaikan insyaaallah akan tersampaikan.
2. Sebagai portofolio kita. Banyak jalan untuk mengumpukan data yang kita milkii tapi masih kalah dengan blog ini karena kita dapat membukanya dimana saja dan kapan saja secara online. Portofolio berupa kegiatan, prestasi atau yang lainnya dapat di tuangkan di sini dalam bentuk tulisan, gambar, foto, atau film bahkan. Kesemuanya ini tentunya akan menjadi kebanggaan bagi kita sebagai seorang guru jika suatu saat nanti kita sudah tua.
3. Media Aktualisasi diri. Banyak cara untuk mengaktualaisasikan diri salah satunya adalah dengan negblog karena kita dapat beraktualisasi diri denagn tulisan0tulisan yang kita miliki.
4. Media Promosi. Kadang kita pingin di kenal orang lain, kdang namun kita malu untuk bertemu dengan orang lain dengan blog kita bisa di kenal tidak hanya di daerah kita, di negeri kita atau diluar dari itu karena blog yang kita milki di baca oleh seoantero jagat ini.
5. Media menyampaikan pesan. Kadang kita punya banyak keinginan dan kebutuhan dengan media ini kita dapat menyampaikan pesan-pesan kita kepada orang lain dengan komentar-komentar kita atau sebaliknya.selainkita dapat memberikan informasi sebanyak-banyaknya agar bermanfaat diri kita dengan memberikan informasi bagi yang membutuhkanya. misalnya saja kita membeikan informasi lowongan kerja, lomba dan sebagainya.
6. Media belajar guru dan siswa. Ini yang sangat penting dengan blog kita bisa jadikan untuk media belajar guru dengan menulis atau membuat karya, kepada siswa dapat digunakan untuk belajar dengan memperoleh informasi atau pesan-pesan yang kita sampaikan dengan blog yang kita milliki.
Pokoknya masih banyak lagi manfaat blog bagi seorang guru, makanya ayoo guru pada ngeblog tidak akan rugi, di jamin deh..oh ya kalau tidak sekarang kapan lagi...
Gaji Guru di Malaysia 39 Juta
JAKARTA, KOMPAS.com - Pendidikan merupakan aspek prioritas bagi Malaysia. Maka pemerintahnya pun tak main-main dengan kesejahteraan para gurunya.
Ketika berbagi dalam peluncuran Kongres Guru Indonesia 2010 di Sampoerna School of Education Building, Rabu (28/4/2010), Atase Pendidikan Kedutaan Besar Malaysia Dato' Paduka Junaidy Abu Bakar mengatakan gaji guru mula di Malaysia berjumlah 1.405 RM ditambah tunjangan rutin 340 RM. Totalnya sekitar Rp 4.941.222,33.
Total gaji ini diberikan kepada guru muda lulisan Diploma 3 yang baru mengajar. Guru muda ini berada di grade DGA 29. Di tahap akhir grade ini, gajinya bisa mencapai Rp 10.682.685,36. Jika guru juga naik golongan atau grade, gajinya pun akan naik hampir Rp 2 juta.
Dalam kelompok guru lulusan D-3, ada tiga tingkatan, yaitu grade DGA 29, grade DGA 32 dan grade DGA 34. Ketika guru naik pangkat di akhir grade 34, gajiinya bisa mencapai hampir Rp 12 juta. Itu baru guru lulusan D-III.
Beda lagi dengan para guru dan dosen lulusan S-1 dan S-2. Dalam lima grade, rentang gajinya dari 1.695 RM plus 550 RM atau sekitar Rp 6.343.799,17 hingga 8.860 RM plus 2.200 RM dengan total hampir Rp 39 juta.
Selain gaji pokok ini, mereka juga berhak memperoleh tunjangan-tunjangan lain, seperti tunjangan perumahan sebesar 180 RM, laptop gratis, dan pinjaman mobil. Para guru dan dosen juga memperoleh insentif khusus jika mengajar mata pelajaran seperti Bahasa Inggris atau mengajar pelajar cacat.
Bagi mereka yang tinggal di kawasan pinggiran dan mengalami kesulitan transportasi juga memperoleh tunjangan antara 500 RM sampai 1.500 RM serta dana cuti belajar.
Tentu saja, para guru boleh tenang. Pasalnya, indeks taraf hidup pun hanya berkisar 750 RM-1.500 RM. Maksimal hanya terjadi di kawasan Bandar. Kesejahteraan ini pun berlaku pula bagi para guru swasta. Hanya bedanya, lanjut Junaidy, di Malaysia jarang terdapat sekolah swasta.
"Enggak ada beda guru pemerintah dan swasta. Justru kesejahteraan guru pemerintah lebih baik daripada guru swasta. Jadi enggak banyak sekolah swasta di Malaysia. Hanya banyak di Kuala Lumpur," tambahnya.
sumber : http://edukasi.kompas.com/read/2010/04/28
Jika gaji guru di Indoensia seperti ini tentunya buanyak orang berbondong-bondong jadi guru dan pastinya orang yang jadi guru adalah orang pilihan bukan orang "turahan", karena dengan gaji guru besar otomatis banyak lulusan SLTA yang pingin ambil profesi ini akhirnya terjadi persaingan ketat di tingkat PT. Dan akibatnya orang yang terpilihlah akan maju menjadi guru.
Dengan orang pilihan yang menjadi guru, harapnanya dapat memajukan sistem pendidikan di Indoensia karena dengan guru pilihan pula diharapkan akan terwujud anak pilihan.
Walaupun itu masih berat bagi Indoenesia dengan anggaran yang ada saat ini , tapi harus dibuat wacana ke depan bagi pengambil kebijakan agar pendidikan di Indoenesia ini lebih maju dan tdk semakin ketinggalan zaman.
Meski kata orang tidak menjamin gaji guru besar terus kwalitasnya juga hebat, untuk saat ini mungkin iya!, tapi dengan seiringnya jaman dengan alasan yang saya ungkapkan di atas tentunya akan ada perubahan.
Model Pembelajaran dengan Outbound
Memang tugas guru menjadi berat karena dengan outbound ini membutuhkan tenaga fisik yang ekstra dan memerlukan pengawasan yang khusus jika dilakukan dengan anak-anak. namun manfaat yang didapatkan akan terasalebih dibanding dengan tenaga ekstra yang dikeluarkan guru.
Dan tentunya model pemebelajaran ini sangat sesuai dengan kurikulum saat ini yang salah satu tujuan pemeblajran adalah memberikan pengalaman hidup yang contekstial dengan dasar pemebelajran yang menyenangkan.
Outbound yang dilakukan tidak harus mahal dengan peralatan peralatan yang mahal pula. Outbound bisa murah, misalnya pergi ke sungai, ke sawah, atau menggunakan alat peraga di alam sekitar misalnya kayu, air, dan media lain yang mendukung.
Orang tua wali murid juga banyak yang mendukung dengan hal ini karena anak akan merasa lebih percaya di ri, hal ini adalh pengalaman menulis ketika mendampingi anak mengikuti outbound di luar selain memupuk kemandirian anak.
Jadi selamat mencoba pembelajaran dengan Outbound, dan rasakan perbedaan bagaimana kesan dan pesan murid model pembelajaran seperti ini.
Nah bagaimana model pembelajran in idapat diterpakan di sekolah sialhkan tunggu posting saya selanjutnya.
Penataan Alat laboratorium
memang perlu waktu , dan tenaga untuk melakukan hal di atas namun tidak begitu sulit karena kita bisa menggunakan murid kita untuk membantu membersihkan laboratorium kita setiap anak melakuakn praktek di laboratorium dan mengembalikan kembali alatnya sesuai dengan tempatnya.
hal ini juga perlu dikomunikasikan dengan guru yang lain sehingga laboran IPA tidak menjadi berat ketika melaksanakan tugas diatas. selamt mencoba. salam sains
Belajar dari Alam
sialhkan di coba jika anda tida,k percaya.


